Ironi Marsinah, Disandingkan Bersama Soeharto Jadi Pahlawan Nasional

by Redaksi
0 comments
A+A-
Reset
Hati Hati Penipuan Yang Mengatasnamakan Redaksi VOICEIndonesia

VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Presiden Prabowo baru saja umumkan 10 tokoh yang dapatkan gelar Pahlawan Nasional. Nama Marsinah ada di dalamnya bersanding dengan Soharto. Banyak kalangan menilai realita ini adalah ironi. Pasalnya Marsinah ditemukan terbunuh saat berjuang hak – hak pekerja di era Soeharto saat menjabat sebagai presiden.  Kematian Marsinah sendiri selalu dikaitkan dengan rezim militer saat Soeharto jadi presiden.

Lebih dari tiga dekade berlalu, kasus pembunuhan aktivis buruh Marsinah masih menyisakan tanda tanya besar. Buruh perempuan dari PT Catur Putra Surya (CPS), Sidoarjo, itu ditemukan tewas pada 8 Mei 1993 dengan tanda-tanda penyiksaan berat. Tragedi tersebut terjadi di tengah kuatnya cengkeraman kekuasaan rezim Orde Baru di bawah Presiden Soeharto.





Marsinah dikenal sebagai sosok muda yang berani memperjuangkan hak-hak buruh. Ia menjadi penggerak aksi mogok kerja menuntut kenaikan upah sesuai surat edaran Gubernur Jawa Timur pada 1993. Namun perjuangan itu berujung tragis setelah aksi buruh dibubarkan dan sejumlah pekerja dipaksa menandatangani surat pengunduran diri oleh aparat militer.

Beberapa hari kemudian, Marsinah ditemukan tewas di hutan Wilangan, Nganjuk. Hasil autopsi menunjukkan ia mengalami kekerasan fisik dan seksual sebelum dibunuh. Dugaan kuat mengarah pada keterlibatan aparat negara di bawah pengaruh rezim Soeharto yang saat itu dikenal keras terhadap setiap bentuk perlawanan buruh dan aktivis.

Dalam laporan-laporan lembaga HAM, kasus Marsinah disebut sebagai cermin kekerasan negara terhadap pekerja di masa Orde Baru. Pemerintah saat itu dituding menutup-nutupi fakta sebenarnya demi menjaga citra stabilitas nasional yang menjadi doktrin utama rezim Soeharto.

Meski sempat ada proses pengadilan, para terdakwa akhirnya dibebaskan karena bukti tidak cukup, sementara dalang pembunuhan tak pernah tersentuh hukum. Hingga kini, kasus Marsinah masih dianggap belum tuntas dan penuh rekayasa hukum.

Setiap 8 Mei, berbagai kelompok buruh, aktivis, dan mahasiswa memperingati Hari Marsinah sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan. Ia dikenang bukan hanya sebagai korban kekerasan, tetapi juga sebagai simbol keberanian melawan represi negara di masa Soeharto.

Marsinah telah tiada, namun semangatnya terus hidup. Ia menjadi pengingat bahwa keadilan bagi kaum buruh masih harus diperjuangkan, bahkan di tengah bayang-bayang kekuasaan yang mencoba membungkam suara rakyat.

Baca Berita VOICEIndonesia di Google News


Editorial VOICEIndonesia




0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x