Laba Bersih Vale Indonesia Sepanjang Triwulan I 2026 Tumbuh 100% Ditopang Lonjakan Harga Komoditas

by Redaksi
0 comments
A+A-
Reset
Hati Hati Penipuan Yang Mengatasnamakan Redaksi VOICEIndonesia
VOICEINDONESIA.CO, Jakarta  – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatat lonjakan laba bersih menjadi US$43,6 juta atau sebesar 100% dari realisasi sepanjang triwulan I tahun lalu yakni US$21,8 juta meski produksi nikel mengalami penurunan.
Penurunan produksi terjadi seiring kegiatan pemeliharaan terencana, termasuk pembangunan kembali Furnace 3. Sepanjang triwulan I 2026, produksi nikel matte tercatat sebesar 13.620 ton, turun dibandingkan 17.052 ton pada kuartal sebelumnya serta jauh dibawah realisasi di periode yang sama tahun lalu yakni 17.027 ton.
Namun, penurunan volume tersebut berhasil diimbangi oleh kenaikan harga jual dan efisiensi operasional. Harga rata-rata nikel matte naik 15% menjadi US$14.213 per ton, mendorong pendapatan perusahaan mencapai US$252,7 juta.
Dari sisi profitabilitas, EBITDA perseroan meningkat 29% secara kuartalan menjadi US$80,1 juta. Kinerja ini ditopang oleh manajemen biaya yang disiplin dan optimalisasi operasional di tengah dinamika industri nikel global.
CEO dan Presiden Direktur PT Vale, Bernardus Irmanto, mengatakan perusahaan tetap mampu menjaga margin positif di tengah tantangan operasional.
“Terlepas dari tantangan yang terus berlanjut dan lingkungan operasional yang tidak pasti, kami terus menunjukkan kemampuan kami untuk mempertahankan margin positif dan disiplin keuangan,” ujar Bernardus dalam keterangannya, Kamis (30/4/2026).
Selain itu, 2026 menjadi tahun penting bagi ekspansi PT Vale. Perusahaan mulai mengoperasikan tiga blok tambang sekaligus, yakni Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa. Bahkan, penjualan perdana bijih nikel limonit dari Pomalaa telah dimulai pada awal tahun ini, sebagai bagian dari strategi diversifikasi pendapatan.
Di sisi biaya, cash cost nikel matte tercatat sebesar US$10.382 per ton, sedikit meningkat akibat kenaikan harga input energi. Meski demikian, perusahaan optimistis efisiensi akan meningkat seiring kenaikan volume produksi, khususnya dari proyek Pomalaa.
PT Vale juga memperkuat strategi pembiayaan berkelanjutan dengan menandatangani fasilitas Sustainability-Linked Loan (SLL) senilai US$750 juta pada April 2026. Fasilitas ini disebut sebagai yang pertama di sektor pertambangan Asia Tenggara.
Sepanjang kuartal pertama, belanja modal (capex) mencapai US$139 juta untuk mendukung proyek pertumbuhan. Sementara itu, posisi kas tercatat sebesar US$220,1 juta per akhir Maret 2026.
Ke depan, perseroan menargetkan produksi nikel matte sebesar 67.645 ton sepanjang tahun 2026, dengan prospek kinerja yang ditopang tren kenaikan harga nikel global serta peningkatan skala operasi.
Baca Berita VOICEIndonesia di Google News


Editorial VOICEIndonesia




0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x