Terjebak Sindikat Narkoba: ABK Indonesia Jadi Tumbal di Kapal Taiwan

by VOICEINDONESIA.CO
0 comments
A+A-
Reset
Hati Hati Penipuan Yang Mengatasnamakan Redaksi VOICEIndonesia
Foto : Delegasi dari Serikat Pekerja Perikanan Indonesia (SPPI), Stella Maris Batam, Stella Maris Taipei, dan VOICEIndonesia.co melakukan kunjungan resmi ke Control Yuan Taiwan di terima langsung oleh Wakil Ketua Control Yuan, Chi Hui-jung (kedua dari kanan).(dok.old.voiceindonesia.co)

VOICEINDONESIA.CO,Taipei – Dunia perikanan Taiwan kembali diguncang oleh isu memilukan yang menyasar para Pekerja Migran Indonesia (PMI) sehinga butuh perhatia serius.

Pada Kamis, 5 Maret 2026, delegasi dari Serikat Pekerja Perikanan Indonesia (SPPI), Stella Maris Batam, Stella Maris Taipei, dan VOICEIndonesia.co melakukan kunjungan resmi ke Control Yuan Taiwan guna membahas krisis kemanusiaan yang menjerat Anak Buah Kapal (ABK). Pertemuan ini menjadi momentum krusial untuk membongkar praktik terselubung yang selama ini merugikan para awak kapal perikanan di perairan internasional.





Ansensius Guntur, atau yang lebih akrab disapa Pater Yance, mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai banyaknya kasus ABK yang bekerja di kapal Taiwan namun justru terseret dalam pusaran kasus narkoba.

Berdasarkan laporan yang diterima, para pekerja malang ini terjebak bukan karena memiliki niat kriminal, melainkan karena ketidaktahuan mereka terhadap muatan ilegal yang diselundupkan ke dalam kapal. Pater Yance menekankan bahwa para ABK sering kali hanya diberikan informasi palsu mengenai isi muatan tersebut oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Dalam penjelasannya kepada pihak otoritas, Pater Yance menceritakan bahwa para ABK biasanya diberitahu bahwa barang yang mereka angkut hanyalah komoditas biasa seperti teh, tanpa pernah diberikan kesempatan untuk memeriksa isi yang sesungguhnya.

“Dari laporan ABK mereka terjerumus bukan karena mereka punya niat untuk melakukan itu tapi karena mereka tidak tahu sama sekali barang-barang yang diangkut. Biasanya dibilang teh tanpa melihat isi yang sesungguhnya. Wkil ketua Control Yuan, Chi Hui-jung mennyatakan niatnya untuk mendalami informasi tersebut,”.kata Yance

Ketidaktahuan ini menjadi celah bagi sindikat untuk menjadikan pekerja migran sebagai perisai hukum. Menanggapi laporan serius ini, Wakil Ketua Control Yuan, Chi Hui-jung, menyatakan komitmen dan niatnya untuk mendalami informasi tersebut secara lebih komprehensif agar keadilan dapat ditegakkan.

Ketua Umum SPPI, Achdiyanto Ilyas Pangestu, turut membedah akar permasalahan yang bersumber dari budaya kerja dan kepatuhan yang tinggi di atas kapal. Menurutnya, karakter dasar ABK Indonesia yang sangat menghormati otoritas sering kali disalahgunakan oleh atasan mereka. Kepatuhan buta terhadap perintah kapten atau pimpinan kapal menjadi bumerang yang menghancurkan masa depan para pekerja ini tanpa mereka sadari sebelumnya.

Ilyas menjelaskan bahwa para awak kapal akan mematuhi setiap perintah atasan tanpa melakukan pengecekan secara mendalam mengenai barang apa sebenarnya yang tersimpan di dalam bungkusan tersebut. Pola inilah yang menurut Ilyas paling sering menjerat para pekerja migran ke dalam masalah hukum yang sangat berat di Taiwan.

Mereka hanya menjalankan tugas sebagai pekerja, namun berakhir sebagai tersangka dalam kasus penyelundupan barang haram berskala besar. “Mereka akan mematuhi perintah atasan tanpa mengecek secara detil barang apa sebenarnya yang ada dalam bungkusan. Itu yang sering menjerat para ABK,” ujar Ilyas

Kenyataan pahit ini diamini oleh HS, seorang mantan ABK yang kini tengah berjuang menghadapi proses hukum atas tuduhan pengangkutan narkoba dari beberapa tahun silam. HS hadir langsung dalam pertemuan dengan Control Yuan untuk memberikan kesaksian nyata mengenai bagaimana dirinya bisa terjerumus. Dengan nada penuh penyesalan, ia mengakui bahwa dirinya benar-benar terjebak dalam kasus tersebut tanpa sedikit pun memiliki niat jahat atau pengetahuan tentang barang yang ia angkut.

Saat memberikan keterangan di hadapan para pejabat, HS menegaskan bahwa posisi mereka sebagai pekerja rendahan tidak memungkinkan untuk membantah perintah. “Kami hanya bekerja dan patuh atas perintah pimpinan, dan kami sama sekali tidak mengetahui isi paket-paket yang kami muat ke dalam kapal,” ujar HS dengan jujur. Kesaksian ini memperkuat dugaan adanya eksploitasi sistematis terhadap pekerja migran yang dipaksa menjadi kurir tanpa sadar.

Data yang dirilis oleh Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei menambah kelam potret pekerja migran Indonesia di sektor perikanan dengan mencatat adanya 39 kasus ABK yang dituduh mengangkut narkoba.

Angka ini dianggap sangat mengkhawatirkan karena memunculkan kecurigaan bahwa PMI sengaja direkrut untuk tujuan penyelundupan tanpa sepengetahuan mereka. Jika tren ini terus berlanjut tanpa perlindungan hukum yang kuat, maka keselamatan dan martabat pekerja Indonesia akan terus berada dalam ancaman.

Dalam pertemuan strategis tersebut, hadir pula Pemimpin Redaksi VOICEIndonesia.co, Anton Sahadi, yang berkomitmen untuk merajut komunikasi yang lebih efektif. Kehadirannya bertujuan untuk memastikan kepentingan pemberitaan terkait pekerja migran Indonesia di Taiwan dapat tersampaikan dengan akurat kepada publik.

Langkah kolaboratif antara serikat pekerja, lembaga keagamaan, dan media ini diharapkan mampu mendesak pemerintah Taiwan untuk memberikan perlindungan nyata bagi para Pahlawan devisa tersebut.(red)

Pilihan Redaksi : Tumbal Sabu 2 Ton: Tangis ABK Menghadapi Eksekusi Mati

Baca Berita Lainnya di Google News

Baca Berita VOICEIndonesia di Google News


Editorial VOICEIndonesia




0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x