Pemerintah Himbau Perayaan Tahun Baru Diminta Tanpa Pesta Berlebihan

by VOICEINDONESIA.CO- Afifah
0 comments
A+A-
Reset
Hati Hati Penipuan Yang Mengatasnamakan Redaksi VOICEIndonesia
Mendagri: Penghapusan BPHTB unggulan Presiden Prabowo

VOICEINDONESIA.CO, Jakarta Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mengimbau agar perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) tidak dilakukan secara berlebihan, termasuk dengan pesta kembang api dan kegiatan euforia besar-besaran.

Imbauan ini disampaikan sebagai bentuk empati terhadap masyarakat yang tengah berduka akibat bencana alam di sejumlah wilayah.





“Kita mengimbau untuk tidak dilaksanakan secara euforia yang berlebihan,” ujar Tito Karnavian dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (25/12/2025).

Mendagri menegaskan, imbauan tersebut merupakan wujud penghormatan dan solidaritas kepada masyarakat terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Baca Juga: Muktamar ke-35 NU Segera Digelar: Kesepakatan Lirboyo Jadi Titik Terang Konflik Internal PBNU

Menurutnya, perayaan Nataru sebaiknya dilakukan secara sederhana dengan tetap mengsuggest nilai empati dan kepedulian sosial.

Imbauan tersebut disampaikan Tito saat Rapat Evaluasi Realisasi APBD Tahun 2025 yang diikuti seluruh kepala daerah dan dilaksanakan secara virtual dari Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta.

Sejalan dengan arahan tersebut, sejumlah pemerintah daerah menyatakan tidak akan menggelar pesta kembang api pada malam Tahun Baru 2026. Salah satunya adalah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Baca Juga: Berlaku Mulai 1 Januari 2026, Ini Daftar Sementara Kenaikan UMP 

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menegaskan bahwa Jakarta tidak akan mengadakan pesta kembang api pada perayaan malam pergantian tahun.

Namun demikian, ia memastikan perayaan Tahun Baru tetap berlangsung dengan konsep sederhana.

“Jakarta tetap harus merayakan tahun baru karena kita adalah ibu kota dan kota global yang akan disorot dunia. Tetapi yang jelas saya tidak ingin kita menampakkan kemewahan berlebihan dan tidak punya empati dengan apa yang terjadi dengan saudara-saudara kita yang ada di Sumatera,” ujar Pramono.(af/ri)

Pilihan Redaksi: Menggugat Negara: PMI Bukan Objek, Selamatkan Nyawa dari Jerat Perdagangan Manusia

Baca Berita VOICEIndonesia di Google News


Editorial VOICEIndonesia




0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x