Amerika Terang-terangan Melakukan Perampokan Modern

Berbagai kejahatan terus dilakukan Amerika Serikat, mulai dari pembajakan kapal tanker hingga penahanan warga negara Venezuela tanpa dasar hukum

by Sintia Nur Afifah
0 comments
A+A-
Reset
Hati Hati Penipuan Yang Mengatasnamakan Redaksi VOICEIndonesia
Foto : Sebuah spanduk besar bertuliskan "Bebaskan Presiden Maduro Sekarang, Hancurkan Imperialisme AS" terlihat dalam sebuah aksi jalanan. Aksi ini menekankan persatuan antara pekerja, petani, nelayan, hingga mahasiswa dalam melawan intervensi politik luar negeri.(dok.old.voiceindonesia.co)

VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Kecaman terhadap Amerika Serikat yang terang – terangan melanggar hukum internasional dengan menyerang dan menangkap presiden Venezuela terus dilayangkan.

Juru Bicara GEBRAK, Tegar Afriansyah, menyatakan berbagai kejahatan terus dilakukan Amerika Serikat, mulai dari pembajakan kapal tanker hingga penahanan warga negara Venezuela tanpa dasar hukum.





“Amerika Serikat telah melakukan pembajakan terang-terangan terhadap kapal tanker yang membawa minyak Venezuela, pengeboman dan penembakan kapal-kapal kecil di Karibia, serta pembatasan terhadap warga negara Venezuela yang berada di atas kapal,” tegas Tegar dalam keterangannya, Selasa (6/1/2026).

Menurut Tegar, apa yang dilakukan Amerika yang dikomandoi langsung presidennya Donald Trump merupakan perampokan modern yang dilegalkan dengan dalih penegakan hukum, namun pada kenyataannya adalah agresi terhadap negara berdaulat.

Ia juga menegaskan embargo dan blokade telah memutus akses rakyat terhadap pangan, kesehatan, dan energi, serta mendorong krisis kemanusiaan yang semakin dalam, ujarnya.

“Perang, militerisme, dan imperialisme adalah manifestasi ekstrem dari penindasan struktural terhadap perempuan, rakyat, dan alam,” katanya.

Baca Juga : Serangan Amerika ke Venezuela Jelas Proyek Jangka Panjang

Ada empat sikap gebrak terhadap agresi Amerika Serikat ke Venezuela :

1. Menolak intervensi militer Amerika Serikat terhadap Venezuela.

2. Membebaskan Nicolas Maduro.

3. Menghentikan embargo ekonomi Amerika Serikat terhadap Venezuela.

4. Menghentikan kerja sama dengan imperialisme Amerika Serikat.

Perwakilan Mahasiswa Tanpa Kelas, Isfa’zia Ulhaq menilai tuntutan tersebut relevan karena pola hegemoni Amerika Serikat tidak berhenti di satu negara, ujarnya.

“Amerika Serikat menunjukan kekuatan hegemoni nya terhadap negara-negara lain yang memilih jalan politiknya sendiri,” katanya.

Baca Juga : WNI Harus Terpantau KBRI Caracas

Ulhaq menyebut ketimpangan kekuasaan global menjadi akar dari berbagai konflik internasional hari ini, pungkasnya.

“Apa yang terjadi hari ini merupakan puncak dari representasi dari ketimpangan kekuasaan global yang sangat timpang,” tegasnya.

Ulhaq menegaskan solidaritas terhadap Venezuela juga merupakan bentuk perlawanan terhadap ancaman hegemoni di Indonesia, katanya.

“Dan tidak menutup kemungkinan telah, sedang dan akan semakin besar terjadi di Indonesia juga,” pungkasnya.

Aksi ini didukung oleh Konfederasi KASBI, KPBI, SGBN, KSN, Jarkom SP Perbankan, KPA, SEMPRO, KPR, FPBI, SMI, LMID, Fajar, LBH Jakarta, YLBHI, WALHI, Greenpeace, Trend Asia, Aliansi Jurnalis Independen, KontraS, BEM STIH Jentera, Rumah Amartya, Pembebasan, LIPS, Perempuan Mahardhika, KSPTMKI, DFW, PKBI, Perserikatan Sosialis, Organisasi Kaum Muda Sosialis, serta jaringan buruh, mahasiswa, jurnalis, pegiat HAM, dan lingkungan. (Sin/Ri)

Pilihan Redaksi : Menggugat Negara: PMI Bukan Objek, Selamatkan Nyawa dari Jerat Perdagangan Manusia

Baca Berita VOICEIndonesia di Google News


Editorial VOICEIndonesia




0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x