VOICEINDONESIA, Jakarta – Netflix resmi mencapai kesepakatan untuk mengakuisisi divisi studio dan layanan streaming milik Warner Bros. Discovery (WBD) dengan nilai transaksi sekitar USD 72 miliar, menjadikannya salah satu akuisisi terbesar dalam sejarah industri hiburan modern. Kesepakatan yang diumumkan 5 Desember 2025 itu mencakup studio film dan TV Warner Bros, HBO, serta HBO Max, memperluas kekuatan Netflix sebagai pemain dominan di sektor streaming global.
Sebagai bagian dari proses restrukturisasi, unit jaringan kabel seperti CNN, TNT, dan Discovery akan dipisahkan ke perusahaan baru sebelum transaksi difinalisasi. Penyelesaian akhir akuisisi diperkirakan memakan waktu 12 hingga 18 bulan, setelah seluruh proses spin-off dan persetujuan regulator rampung.
Akuisisi ini menimbulkan kegelisahan di industri hiburan. Para pemilik bioskop dan pembuat film mempertanyakan apakah Netflix, yang dikenal memprioritaskan perilisan digital, akan mengurangi distribusi film Warner Bros di layar lebar. Beberapa kritikus menyebut langkah ini sebagai ancaman serius terhadap ekosistem sinema tradisional.
Aktris dan aktivis Jane Fonda bahkan menyebut kesepakatan Netflix–Warner Bros sebagai sesuatu yang “katastrofik” bagi industri kreatif, menyoroti dampak jangka panjang terhadap keberagaman produksi dan kesejahteraan pekerja film.
Keputusan Netflix mengakuisisi Warner Bros Discovery (WBD) kini dipandang bukan semata langkah korporasi, melainkan bagian dari perebutan kekuasaan baru: siapa yang mengendalikan budaya pop global.
Di era ketika film, serial, dan karakter fiksi membentuk selera, percakapan publik, hingga kekuatan diplomasi budaya suatu negara, konsolidasi ini berpotensi mengubah arah dominasi media internasional. Dengan menggabungkan jangkauan global Netflix dan warisan konten Warner Bros—dari Harry Potter, DC Universe, hingga Game of Thrones—raksasa baru ini berpeluang mendikte apa yang dikonsumsi miliaran penonton di berbagai negara.
Kesepakatan itu masih menunggu persetujuan regulator AS serta proses spin-off unit jaringan kabel seperti CNN dan Discovery, namun dampaknya sudah terasa di seluruh industri. Para analis menyebut langkah ini sebagai “soft power merger”, di mana konten menjadi alat pengaruh massa paling efektif di era digital.


