VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Kementerian Luar Negeri (Kemlu) belum menerima pernyataan resmi dari pemerintah setempat mengenai penyebab ledakan di kapal tugboat Musaffah 2 yang menewaskan dan menghilangkan sejumlah ABK Indonesia di Selat Hormuz. Insiden yang terjadi pada 6 Maret lalu masih menyisakan misteri terkait penyebab terbakar dan tenggelamnya kapal berbendera Uni Emirat Arab tersebut.
Plt Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI Heny Hamidah mengungkapkan hingga saat ini belum ada klarifikasi resmi terkait kronologi kejadian. Ketiadaan informasi ini mempersulit upaya penanganan dan investigasi lanjutan terhadap insiden yang menimpa empat ABK Indonesia di jalur pelayaran strategis dunia.
“Sampai saat ini masih dilakukan pencarian dan otoritas setempat juga masih terus melakukan pencarian selama 24 jam,” kata Heny dalam taklimat media di Jakarta, Jumat (13/3/2026).
Operasi pencarian terhadap tiga ABK Indonesia yang masih hilang terus berlangsung tanpa henti selama 24 jam. Otoritas setempat berkomitmen melanjutkan pencarian sampai ada pernyataan resmi untuk menghentikan operasi, meski sudah memasuki hari kedelapan sejak kejadian.
Insiden di Selat Hormuz mengakibatkan satu WNI dirawat di rumah sakit di Oman dalam kondisi selamat. Namun tiga ABK lainnya masih dalam pencarian di perairan yang menjadi jalur vital perdagangan minyak global. Sejauh ini belum ada laporan terkait WNI lain yang terjebak di Selat Hormuz.
“Mereka tidak akan berhenti sampai otoritas setempat menyatakan pencarian dihentikan,” ujarnya.
Baca Juga : Nasib 3 WNI yang Hilang di Selat Hormuz Belum Diketahui
Heny menyampaikan 32 WNI yang dievakuasi dari Iran telah tiba di Indonesia pada 10 Maret 2026. Pada tahap evakuasi kedua, sebanyak 34 WNI akan diterbangkan ke Indonesia dalam dua gelombang, dengan 20 orang tiba pada Jumat dan 14 orang menyusul pada Sabtu.
Terkait rencana evakuasi berikutnya dari Iran, Pemerintah Indonesia melalui KBRI Teheran akan terus melakukan asesmen keamanan. Keperluan evakuasi akan disesuaikan dengan kondisi terakhir di lapangan dan kesiapan WNI yang masih berada di wilayah terdampak konflik Timur Tengah.
KBRI akan terus berkomunikasi secara intensif dengan para WNI yang masih berada di Iran untuk mendapatkan masukan tentang situasi mereka di lokasi masing-masing. Evaluasi berkelanjutan dilakukan untuk memastikan keselamatan warga negara di tengah ketegangan kawasan. (Sin/Ah)
Pilihan Redaksi : Menggugat Negara: PMI Bukan Objek, Selamatkan Nyawa dari Jerat Perdagangan Manusia
Baca Berita Lainnya di Google News


