VOICEINDONESIA.CO, Teheran – Pemerintah Iran menawarkan untuk mengakhiri pembatasan di Selat Hormuz dengan syarat Amerika Serikat harus mengakhiri blokade terhadap negara tersebut. Tawaran ini disampaikan Iran melalui Pakistan namun dilaporkan tidak menyentuh pembahasan mengenai program nuklir Teheran.
Dua pejabat regional yang mengetahui proposal tersebut mengungkapkan tawaran ini disampaikan melalui jalur diplomatik Pakistan. Namun Presiden AS Donald Trump diperkirakan tidak akan mendukung proposal baru tersebut karena tidak mencakup penghentian program nuklir Iran.
Trump berkeras bahwa penghentian program atom Iran harus menjadi bagian dari kesepakatan menyeluruh jika ingin Selat Hormuz dibuka kembali dan gencatan senjata menjadi permanen. Ia menekankan AS memegang posisi lebih kuat dalam negosiasi.
“Kami memegang semua kartu. Jika mereka ingin bicara, mereka bisa datang kepada kami, atau mereka bisa menelepon kami,” tegas Trump dalam wawancaranya dengan Fox News Channel, Minggu (26/4/2026).
Meski sempat membatalkan pengiriman utusan Steve Witkoff dan Jared Kushner ke Islamabad karena kurangnya kemajuan, Trump mengeklaim telah menerima tawaran yang lebih baik sesudahnya. Ia menyebut hanya dalam 10 menit setelah membatalkan perjalanan tersebut, Iran mengirimkan proposal yang jauh lebih baik.
Baca Juga : Trump Tunda Buka Selat Hormuz, Bagaimana Nasib Genjatan Senjata AS-Iran?
“Iran tidak akan memiliki senjata nuklir,” lanjut Trump menegaskan satu syarat mutlak yang tidak bisa ditawar.
Di tengah proses negosiasi yang alot, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dilaporkan telah mendarat di St Petersburg, Rusia, Senin (27/4/2026) untuk bertemu Presiden Vladimir Putin. Araghchi menyebut kunjungan ini sebagai upaya konsultasi terkait perang melawan Israel dan AS.
Araghchi mengatakan ini adalah kesempatan baik bagi Iran untuk berkonsultasi dengan rekan-rekan Rusia mengenai perkembangan yang terjadi terkait perang selama periode ini. Pernyataan ini disampaikan dalam video yang dirilis kantor berita IRNA.
“Ini adalah kesempatan baik bagi kami untuk berkonsultasi dengan rekan-rekan Rusia mengenai perkembangan yang terjadi terkait perang selama periode ini dan apa yang terjadi sekarang,” ujarnya.
Sebelum ke Rusia, Araghchi telah mengunjungi Pakistan dan Oman sebagai bagian dari rangkaian diplomasi Iran untuk mencari solusi atas konflik dengan AS dan Israel. Kunjungan ke tiga negara ini menunjukkan upaya Iran menjajaki berbagai jalur diplomatik untuk mengakhiri konflik.
Proposal Iran untuk mengakhiri blokade Selat Hormuz tanpa menyertakan pembahasan program nuklir menunjukkan kesenjangan posisi antara Teheran dan Washington. Trump tetap bersikeras program nuklir harus menjadi bagian dari kesepakatan menyeluruh, sementara Iran tampak ingin memisahkan kedua isu tersebut. (Sin/Ah)
Pilihan Redaksi : Menjaga Netralitas: Polri Wajib di Bawah Komando Langsung Presiden
Baca Berita Lainnya di Google News


