VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Para calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) yang akan meniti karier di Korea Selatan yuk pahami budaya dan etika kerja sebelum berangkat.
Penyesuaian terhadap sistem hierarki, budaya kerja, hingga bahasa tubuh menjadi faktor krusial guna menghindari culture shock dan memastikan keberhasilan adaptasi di Negeri Ginseng.
Korea Selatan memiliki lingkungan kerja yang kompetitif dengan standar disiplin tinggi.
Berbeda dengan budaya di tanah air, perusahaan di Korea umumnya memandang tempat kerja sebagai ruang untuk eksekusi hasil, bukan tempat untuk memulai proses belajar dari dasar.
Baca Juga: Indonesia Dikenakan Tarif Bea Masuk 0 Persen untuk Produk Tekstil dan Garmen
“Di Korea, tempat kerja itu bukan tempat belajar. Perusahaan berharap karyawan baru langsung bisa bekerja. Adaptasi dilakukan sambil bekerja dan tidak ada jangka waktu khusus,” kata narator dikutip dari YouTube KemenP2MI, Jumat (20/2/2026).
Hierarki Kuat dan Budaya Cepat
Senioritas dan hierarki menjadi ciri khas utama dunia kerja di Korea Selatan. Karyawan baru biasanya menempati posisi terbawah dan wajib menunjukkan rasa hormat yang tinggi kepada atasan.
Selain itu, terdapat budaya ppalli-ppalli atau bekerja serba cepat yang menuntut pekerja fokus pada kecepatan dan kesempurnaan tanpa toleransi terhadap kesalahan.
Profesionalisme di Korea juga tergolong kaku, di mana terdapat pemisahan tegas antara urusan pekerjaan dengan aktivitas religi atau pribadi. Dari sisi komunikasi, mengungkapkan ketidaksetujuan secara langsung dianggap kurang sopan, sehingga interaksi cenderung bersifat formal dan terstruktur.
Baca Juga: PMI Asal Sumbawa Meninggal Setelah Dideportasi dari Malaysia
Kendala Bahasa dan Dialek
Kemampuan bahasa sering kali menjadi tantangan terbesar bagi para pekerja migran. Selain keterbatasan kosakata, perbedaan antara bahasa Korea sehari-hari dengan istilah teknis di perusahaan kerap memicu kesalahpahaman.
Pekerja juga diharapkan siap menghadapi beragam dialek daerah serta gaya bicara atasan yang terkadang terdengar keras namun dianggap normal dalam konteks produktivitas.
“Banyak pekerja berangkat tanpa mempelajari bahasa perusahaan. Jadi penting buat punya dasar bahasa sebelum kita berangkat,” lanjutnya.
Mencegah Miskomunikasi Bahasa Tubuh
Selain bahasa verbal, perbedaan bahasa tubuh sering menjadi pemicu miskomunikasi. Sebagai contoh, gerakan melambaikan tangan di Korea berarti memanggil seseorang untuk mendekat, sementara di Indonesia diartikan sebagai salam perpisahan.
Demikian pula dengan simbol lingkaran jari yang di Korea bermakna “uang”, namun di Indonesia berarti “oke”.
Dalam hal tata cara, bersalaman di Korea mengharuskan seseorang untuk membungkuk terlebih dahulu.
Selain itu, secara tradisi, pihak yang lebih muda harus menunggu orang yang lebih tua untuk mengajak berjabat tangan terlebih dahulu sebagai bentuk penghormatan.
Pemahaman mendalam atas hal-hal ini diharapkan mampu membantu calon pekerja migran bekerja dengan lebih nyaman dan cepat berbaur dengan masyarakat setempat. Semoga bermanfaat. (af/ri)
Pilihan Redaksi: Seleksi Ketat Atase: Tamatnya Era Pejabat Titipan?
Baca Berita Lainnya di Google News


