VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI mencatat ada sebanyak 329 warga negara Indonesia (WNI) di Iran dengan konsentrasi utama berada di kota Qom.
Plt Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia Kemlu RI, Heni Hamidah menyampaikan data tersebut saat menjelaskan kondisi WNI di tengah aksi demonstrasi besar-besaran yang melanda Iran. Mayoritas WNI berada di kota Qom, sementara sisanya tersebar di Tehran dan sekitarnya.
“Jumlah WNI saat ini yang tercatat 329 orang dengan konsentrasi utama di kota Qom,” katanya pada Minggu (18/1/2026).
Pemerintah memutuskan belum melakukan evakuasi berdasarkan asesmen KBRI Tehran dan pemantauan kondisi di lapangan. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan situasi keamanan yang dinilai masih memungkinkan WNI untuk tetap berada di lokasi masing-masing.
“Berdasarkan asesmen KBRI dan dengan memperhatikan kondisi di lapangan saat ini belum diperlukan evakuasi,” tegasnya.
Baca Juga : Kemlu Belum Mau Evaluasi WNI di Iran, Apa Alasannya?
KBRI Tehran terus berkomunikasi dengan simpul-simpul WNI di Tehran dan sekitarnya untuk memastikan kondisi mereka. Persiapan mengantisipasi eskalasi situasi keamanan sesuai rencana kontingensi terus dilakukan meski saat ini belum diaktifkan.
Keputusan Indonesia berbeda dengan langkah yang diambil India dan Polandia yang sudah menyerukan warganya meninggalkan Iran. Pemerintah India memperkirakan sekitar 10 ribu warga negaranya berada di Iran dan meminta mereka segera keluar.
Kedutaan Besar India di Tehran menyarankan warga negaranya yang berada di Iran untuk segera meninggalkan negara tersebut. Imbauan ini disampaikan melalui unggahan media sosial pada Rabu (14/1/2026) malam waktu setempat.
“Warga negara India yang saat ini berada di Iran disarankan meninggalkan Iran dengan alat transportasi yang tersedia,” ujar Kedutaan Besar India.
Pemerintah Polandia lewat Kementerian Luar Negerinya juga menyerukan hal serupa kepada warganya. Menurut kelompok hak asasi manusia, penindakan keras pemerintah Iran terhadap protes massal telah menewaskan ribuan orang.
Ketegangan di kawasan semakin meruncing setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan mendesak Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menunda serangan militer terhadap Iran. Seorang pejabat senior AS mengatakan kepada New York Times bahwa Netanyahu meminta presiden Amerika menunda rencana serangan tersebut.
Seorang pejabat senior Arab Saudi mengatakan kepada AFP bahwa Saudi, Qatar, dan Oman juga telah memimpin upaya membujuk Trump agar tidak menyerang Iran. Negara-negara tersebut khawatir akan dampak buruk yang serius di kawasan jika serangan militer terjadi. (Sin/Ah)
Pilihan Redaksi : Menguji Keseriusan Negara: Segera Sahkan Perubahan Ketiga UU PMI dan Ratifikasi ILO C188!


