VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Pengamat Maritim dari IKAL Strategic Center DR. Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa mengungkapkan munculnya percaloan digital dan tiket palsu yang dapat merusak sistem keamanan pelayaran saat mudik Lebaran 2026. Peredaran tiket palsu melalui aplikasi pemesanan akan mengacaukan perhitungan stabilitas kapal dan penyediaan alat keselamatan.
Ia menegaskan jika tiket palsu beredar, perhitungan stabilitas kapal dan penyediaan alat keselamatan seperti sekoci serta life jacket menjadi tidak akurat. Ancaman patologi digital ini muncul di tengah masifnya digitalisasi tiket melalui aplikasi seperti Ferizy dan PELNI Mobile.
“Jika tiket palsu beredar, perhitungan stabilitas kapal dan penyediaan alat keselamatan seperti sekoci serta life jacket menjadi tidak akurat,” kata Capt. Marcellus dalam rilis media, Sabtu (14/3/2026).
Capt. Marcellus menghimbau para Syahbandar menjaga integritas dalam melakukan ramp check. Tidak boleh ada toleransi sekecil apa pun terhadap kapal yang tidak laik laut hanya demi mengejar keuntungan komersial saat peak season mudik.
Tahun ini, mudik menghadapi fenomena “dua puncak” arus pada 16 dan 18 Maret akibat kebijakan Work From Anywhere (WFA) yang mengubah anatomi mudik secara permanen. Fleksibilitas kerja memungkinkan masyarakat berangkat lebih awal tanpa menunggu cuti bersama resmi.
“Tahun ini kita menghadapi fenomena ‘dua puncak’ arus mudik pada 16 dan 18 Maret. Fleksibilitas kerja memungkinkan masyarakat berangkat lebih awal tanpa menunggu cuti bersama resmi,” jelasnya.
Baca Juga : Ini Alasannya PIS Makin Dipercaya di Bisnis Maritim dan Logistik Global
Dari sisi manajemen trafik, pemecahan konsentrasi massa menjadi kabar baik, namun menuntut kesiapan armada serta stamina personel lapangan dalam durasi operasional lebih panjang. Tradisi mudik menjelang Idul Fitri 1447 H diproyeksikan mencapai puncak mobilitas tertinggi dengan estimasi 144 juta pergerakan manusia.
Isu baru yang menjadi perhatian serius adalah meningkatnya jumlah pemudik membawa kendaraan listrik. Capt. Marcellus meminta operator kapal membekali kru dengan pelatihan khusus penanganan kebakaran baterai litium serta menyediakan APAR khusus di atas kapal.
“Saya menghimbau para Syahbandar untuk bisa menjaga integritasnya dalam melakukan ramp check. Jangan ada toleransi sekecil apa pun terhadap kapal yang tidak laik laut hanya demi mengejar keuntungan komersial saat peak season,” tambahnya.
Mengingat periode Maret merupakan masa pancaroba, para Nakhoda diingatkan memiliki keberanian moral menunda pelayaran jika BMKG mengeluarkan peringatan cuaca ekstrem. Keselamatan penumpang harus selalu ditempatkan di atas jadwal keberangkatan.
Capt. Marcellus juga menekankan pemerintah memberikan perhatian ekstra pada wilayah Indonesia Timur. Data menunjukkan jumlah penumpang di wilayah Pelindo Regional 4 diprediksi mencapai 882.620 orang, di mana laut bukan sekadar pilihan melainkan urat nadi kehidupan yang absolut. (Sin/Ah)
Pilihan Redaksi : Menggugat Negara: PMI Bukan Objek, Selamatkan Nyawa dari Jerat Perdagangan Manusia
Baca Berita Lainnya di Google News


