VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menuding pasukan Israel dan Amerika Serikat menggunakan warga sipil sebagai perisai manusia di kawasan Timur Tengah.
Hal itu disampaikan di tengah konflik yang telah berlangsung hampir satu bulan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. IRGC menyebut pasukan Amerika-Zionis Israel sebagai pihak yang “pengecut” karena diduga memanfaatkan lokasi sipil dan warga tak berdosa sebagai perlindungan.
“Pasukan Amerika-Zionis yang pengecut… sedang berusaha menggunakan lokasi sipil dan orang-orang tak berdosa sebagai perisai manusia,” kata Garda Revolusi Iran dalam pernyataan, dilansir AFP pada Jumat (27/3/2026).
IRGC memperingatkan warga sipil di seluruh kawasan Timur Tengah untuk menjauhi kawasan yang berada dekat dengan pasukan AS. Peringatan ini disampaikan untuk melindungi warga dari kemungkinan serangan balasan Iran terhadap posisi pasukan Amerika.
“Kami menyarankan Anda untuk segera meninggalkan lokasi tempat pasukan Amerika ditempatkan agar tidak membahayakan Anda,” imbuhnya.
Seruan ini disampaikan beberapa jam setelah militer Iran mengancam akan menyerang hotel-hotel yang menampung tentara AS. Juru bicara angkatan bersenjata Iran Abolfazl Shekarchi menyatakan hotel yang ditempati pasukan Amerika menjadi target militer yang sah.
Baca Juga : Indonesia “Blusukan” Cari Pasokan Minyak Mentah Pengganti Timur Tengah
“Ketika semua pasukan Amerika masuk ke sebuah hotel, maka dari perspektif kami, hotel itu menjadi milik Amerika,” kata Shekarchi kepada televisi pemerintah Iran pada Kamis (26/3/2026) waktu setempat.
Shekarchi mempertanyakan mengapa Iran harus diam membiarkan Amerika menyerang. Menurutnya, Iran berhak merespons dengan menyerang di mana pun pasukan AS berada sebagai bentuk pembelaan diri.
“Apakah kita hanya akan diam dan membiarkan Amerika menyerang kita? Ketika kita merespons, tentu saja kita harus menyerang di mana pun mereka berada,” imbuhnya.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Kamis (26/3/2026) kemarin, menuduh pasukan AS menggunakan orang-orang di negara Dewan Kerja Sama Teluk sebagai perisai manusia. Dia menyerukan kepada hotel-hotel di wilayah tersebut untuk menolak pemesanan kamar bagi pasukan AS.
“Sejak awal perang ini, tentara AS melarikan diri dari pangkalan militer di negara-negara GCC untuk bersembunyi di hotel dan kantor,” katanya dalam unggahan di media sosial X.
Kantor berita Iran, Fars, mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya, mengatakan otoritas Iran telah mengirimkan peringatan keras kepada hotel-hotel di wilayah tersebut, khususnya di Uni Emirat Arab dan Bahrain. Militer Iran telah mengidentifikasi pasukan AS yang menggunakan lokasi serupa di Suriah, Lebanon, dan Djibouti.
Perang ini bermula dari serangan pasukan militer Israel dan Amerika Serikat yang menggempur Iran pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut menewaskan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan memicu perang yang menyebar hingga ke seluruh Timur Tengah. (Sin/Ah)
Pilihan Redaksi : Membendung Gelombang Penempatan Ilegal PMI Ke Arab Saudi
Baca Berita Lainnya di Google News


