VOICEINDONESIA.CO, Sidoarjo – Menjelang Bulan Suci Ramadan 1447 Hijriah, harga sejumlah kebutuhan pokok di pasar tradisional Sidoarjo terus mengalami kenaikan. Lonjakan paling signifikan terjadi pada komoditas cabai dan bawang merah yang kini mulai dikeluhkan pedagang hingga pelaku usaha kuliner.
Di Pasar Baru Porong, harga cabai rawit merah kualitas bagus menembus Rp 95 ribu per kilogram. Padahal sebelumnya cabai rawit masih berada di kisaran Rp 60 ribu per kilogram.
Sumiati (52), pedagang bumbu dapur di Pasar Baru Porong, mengatakan kenaikan harga cabai sudah berlangsung sejak sekitar tiga pekan terakhir dan terjadi secara bertahap. “Cabai rawit yang bagus sekarang Rp 95 ribu per kilo, sebelumnya cuma Rp 60 ribu. Naiknya pelan-pelan tapi terus,” ujar Sumiati saat ditemui, Selasa 10 Februari 2026.
Tak hanya cabai rawit merah, cabai rawit kecil yang masih hijau juga ikut mengalami kenaikan tajam. Dari semula Rp 25 ribu per kilogram, kini menjadi Rp 45 ribu per kilogram.
Selain cabai, harga bawang merah kualitas bagus juga melonjak drastis. Sumiati menyebut harga bawang merah yang sebelumnya Rp 25 ribu per kilogram, kini naik hingga Rp 55 ribu per kilogram.
“Bawang merah dulu Rp 25 ribu, sekarang sudah Rp 55 ribu per kilo. Sudah sekitar tiga mingguan ini naiknya,” katanya.
Ia menduga kenaikan harga dipicu meningkatnya permintaan menjelang Ramadan, ditambah cuaca yang kurang bersahabat sehingga memengaruhi distribusi pasokan. “Mungkin karena mau Ramadan juga, terus cuaca sering hujan, kiriman jadi telat. Kadang juga harga sudah tinggi dari penyuplai,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Sriatun (39), pedagang di Pasar Porong. Menurutnya, hampir seluruh kebutuhan dapur mengalami kenaikan, terutama cabai rawit kecil kualitas baik.
“Cabai rawit kecil itu yang paling terasa naiknya. Sudah tiga minggu ini, dan naiknya bertahap, hampir tiap hari ada kenaikan,” katanya.
Sriatun menilai kenaikan harga menjelang Ramadan memang menjadi pola tahunan, namun tahun ini diperparah dengan menurunnya hasil panen akibat cuaca buruk. “Banyak petani cabai dan bawang panennya turun karena cuaca jelek. Akhirnya stok di pasar induk Porong juga berkurang,” ujarnya.
Kenaikan harga cabai ini juga mulai berdampak pada pelaku usaha kuliner kecil. Suparni (45), penjual nasi lalapan di wilayah Porong, mengaku harus melakukan strategi agar tidak mengalami kerugian. “Sekarang sambal saya campur, cabai rawit merah dicampur rawit hijau. Pedasnya masih sama, tapi kalau pakai yang bagus semua, untungnya tipis sekali,” katanya.
Sugito juga mengeluhkan kondisi musim hujan yang membuat jumlah pembeli menurun. “Musim hujan gini pembeli juga berkurang, jadi makin terasa berat,” katanya.
Kondisi kenaikan harga bahan pokok menjelang Ramadan ini diharapkan segera mendapat perhatian pemerintah daerah, terutama dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga di pasar tradisional agar daya beli masyarakat tetap terjaga.(joe)


