VOICEINDONESIA.CO, Grobogan – Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, mencatat sebanyak 113 orang dari total 658 warga yang terdampak dugaan keracunan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) harus dirujuk ke berbagai fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan Djatmiko mengatakan, rujukan terbanyak dilakukan ke RSUD Ki Ageng Getas Pendowo dengan 47 pasien, disusul RSUD R Soedjati Purwodadi sebanyak 29 orang.
Selain rumah sakit rujukan, pasien juga dirawat di sejumlah puskesmas.
Sebanyak 12 orang dirujuk ke Puskesmas Karangrayung 1, tujuh orang ke Puskesmas Kedungjati, dan tiga orang ke Puskesmas Gubug 1.
Baca Juga: Kejar Target Penempatan PMI 2026, BP3MI Kepri Gandeng 17 SMK
Rujukan lainnya masing-masing ke RS Permata Bunda satu orang, Puskesmas Toroh 1 satu orang, Puskesmas Klambu enam orang, Puskesmas Grobogan satu orang, serta Puskesmas Godong lima orang.
“Tercatat pula dua pasien pulang atas permintaan sendiri dari RSUD Ki Ageng Getas Pendowo. Selain itu, dua pasien dari Puskesmas Toroh 1 dipindahkan ke RSUD Ki Ageng Getas Pendowo untuk penanganan lebih lanjut,” ujar Djatmiko di Grobogan, Senin (12/11/2026).
Peristiwa ini bermula setelah ratusan warga, yang sebagian besar merupakan siswa sekolah dasar hingga santri pondok pesantren, diduga mengalami keracunan usai mengonsumsi menu MBG yang dibagikan pada Jumat (9/1).
Makanan tersebut diketahui dipasok oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kuwaron.
Korban tersebar di berbagai satuan pendidikan, mulai dari PAUD, SD, SMP, hingga SMK yang berada di Desa Ngroto, Penadaran, Glapan, dan Trisari.
Baca Juga: Penyelundupan Bawang Ilegal Terbongkar, DPR Dorong Perlindungan Petani Lokal
“Total sementara ada 658 orang terdampak. Sebagian besar sudah ditangani, baik melalui rawat jalan maupun perawatan lanjutan,” katanya.
Hingga Minggu (11/1) pagi, Dinas Kesehatan mencatat sebanyak 79 orang masih menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan. Namun, jumlah tersebut masih dapat berubah.
“Data ini bersifat dinamis. Ada pasien yang sudah dipulangkan karena kondisinya membaik, namun juga ada potensi penambahan. Data akan kami perbarui setiap 12 jam,” ujarnya.
Djatmiko menjelaskan, gejala yang paling banyak dialami korban berupa mual dan muntah.
Dugaan sementara, keluhan muncul setelah mengonsumsi menu MBG berupa nasi kuning dengan lauk telur, abon, dan tempe orek.
Gejala mulai dirasakan sejak Jumat sore hingga Sabtu pagi.
Selain penanganan medis, Dinas Kesehatan Grobogan juga melakukan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) serta pengambilan sampel makanan untuk diuji di laboratorium kesehatan guna memastikan penyebab pasti kejadian tersebut.
Ia mengingatkan seluruh penyedia layanan makanan, khususnya SPPG, untuk mematuhi Standar Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS), termasuk ketepatan waktu distribusi makanan.
“Pemberian makanan tidak boleh molor. Jika terlalu lama, lebih dari empat jam, kualitas makanan dapat menurun dan berisiko menimbulkan gangguan kesehatan,” katanya.
Hingga kini, Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan bersama puskesmas setempat masih terus memantau kondisi para korban serta menelusuri penyebab dugaan keracunan MBG tersebut. (af/hi)
Pilihan Redaksi: Meratifikasi Konvensi ILO 188: Janji Kesejahteraan Bagi Pahlawan Laut Indonesia


