VOICEINDONESIA.CO, Batam – Menjadi istri pelaut di Batam menuntut keahlian khusus dalam mengelola rumah tangga. Tantangannya bukan sekadar menahan rindu saat suami berada di tengah samudra, tetapi juga menahan diri agar stabilitas finansial tidak goyah akibat godaan diskon daring dan gaya hidup nontunai.
Dalam sebuah seminar keuangan yang digelar oleh Direktur Stella Maris Batam, Pater Ansensius Guntur atau yang akrab disapa Romo Yance, pada Sabtu, 29 Maret di Pacific Hotel Batam, para peserta dibekali strategi mengelola “uang gaib” digital agar tidak habis sebelum suami pulang melaut.
Konstantin Siboro selaku Direktur Peningkatan Kinerja dan Manajemen Risiko BP Batam, mengingatkan bahwa musuh terbesar keuangan keluarga bukanlah kenaikan harga kebutuhan pokok, melainkan kesulitan membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Siboro membagikan rumus alokasi bulanan yang terdiri dari 40% untuk dapur, 30% cicilan, 20% biaya pribadi, dan 10% wajib tabungan. Ia menekankan bahwa gabungan biaya dapur dan pribadi maksimal hanya boleh mencapai 60%, sehingga jika terjadi kekurangan, biaya pribadilah yang harus dipangkas terlebih dahulu.
Dalam sesi tanya jawab, Siboro juga menenangkan kekhawatiran para istri pelaut mengenai investasi properti di Batam yang berstatus Hak Guna Bangunan (HGB). Ia menegaskan bahwa investasi tersebut sangat aman karena lahan pemukiman tidak dibatasi, asalkan kewajiban Uang Wajib Tahunan Otorita (UWTO) dibayarkan setiap 30 tahun sekali sesuai luas tanah.
“Jangan takut beli aset rumah di Batam meski statusnya HGB. Lahan pemukiman tak pernah dibatasi, asalkan kewajiban UWTO dibayar per 30 tahun. Jadi investasi rumah tetap aman untuk masa tua,” pesannya.
Tantangan di era digital turut disoroti oleh Direktur Naremax Marco Lau Santosa, yang menyebut uang zaman sekarang sering terasa seperti “uang gaib” karena bentuknya yang digital sehingga mudah dikeluarkan.
Marco memberikan peringatan keras, terutama bagi orang tua yang memiliki anak generasi Z, agar tidak terjebak utang pinjaman online (pinjol) dan paylater demi gaya hidup impulsif.
“Banyak yang terjebak utang konsumtif digital hanya karena tergoda diskon atau promo di e-commerce. Padahal, itu seringkali bukan kebutuhan, tapi keinginan sesaat,” tegas Marco. Ia juga mengingatkan bahaya latte factor atau pengeluaran kecil yang tidak tercatat namun bisa membuat dompet jebol.
Dikesempatan yang sama Customer Service Officer Bank Mandiri Cabang Sekupang Melvino J. Siagian , mengajak keluarga pelaut untuk mulai mengadopsi sistem pembayaran nontunai yang lebih praktis dan tercatat otomatis.
“Ibu-ibu sekarang harus mulai adopsi sistem non-tunai. Keuntungannya banyak banget: lebih cepat, praktis, dan semua pengeluaran tercatat otomatis di aplikasi. Jadi tidak ada lagi istilah lupa uang belanja lari ke mana,” ujar Melvino. Meski demikian, ia mengingatkan adanya efek psikologis di mana transaksi digital sering terasa tidak nyata sehingga memicu belanja dadakan.
Melvino menekankan agar para ibu tetap waspada terhadap keamanan siber dan tidak sembarangan mengklik tautan tidak dikenal. Menurutnya, teknologi hadir untuk membantu, namun kendali penuh tetap berada di tangan pengguna dalam menjaga anggaran keluarga.
Ia berpesan dengan nada jenaka namun serius, “Intinya, teknologi itu membantu, tapi kontrol tetap ada di jempol ibu-ibu semua. Jangan sampai kemudahan digital malah bikin anggaran keluarga ‘karam’ sebelum suami pulang melaut.” (iko)
Baca Berita Lainnya di Google News


