Dua WNI Ikut Disandera Perompak Somalia di Honour 25

Dua WNI yang menjadi korban adalah Ashari Samadikun, kapten kapal asal Kabupaten Gowa, dan Faizal, Mualim III asal Kabupaten Bulukumba

by VOICEINDONESIA.CO- Afifah
0 comments
A+A-
Reset
Hati Hati Penipuan Yang Mengatasnamakan Redaksi VOICEIndonesia

VOICEINDONESIA.CO, Makassar – Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan merespons cepat insiden penyanderaan dua warganya yang menjadi awak Kapal Tanker Honour 25 oleh perompak Somalia di perairan internasional.

Pihak Pemprov telah menjalin komunikasi intensif dengan kementerian terkait guna memastikan keselamatan dan upaya pembebasan para korban.





Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, menyatakan bahwa pihaknya telah bergerak untuk memfasilitasi komunikasi antara pihak keluarga dengan pemerintah pusat.

Baca Juga: Gandeng 7 BUMN Karya, Pembangunan Sekolah Rakyat Tahap II Dikebut Hingga Juni 2026

“Kami telah menghubungkan keluarga korban dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) dan Kementerian Luar Negeri. Kami terus memantau perkembangannya,” kata Andi Sudirman di Makassar, Selasa (28/4/2026).

Dua warga Sulsel yang menjadi korban adalah Ashari Samadikun, kapten kapal asal Kabupaten Gowa, dan Faizal, Mualim III asal Kabupaten Bulukumba.

Sebagai bentuk dukungan nyata, Gubernur menugaskan Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Sulsel, Jayadi Nas, untuk mendampingi keluarga korban di Kecamatan Pattalassang, Gowa.

Baca Juga: Trump Percepat Deportasi Anak-anak Imigran

Jayadi Nas mengungkapkan bahwa berdasarkan informasi terbaru, para korban dilaporkan dalam kondisi selamat meskipun situasi di lokasi penyanderaan sangat dinamis.

“Kami telah mengunjungi keluarga korban dan menghubungkan mereka dengan pihak kementerian, termasuk Wakil Menteri P2MI, untuk mendapatkan informasi terkini. Kami memastikan pemerintah hadir,” ujar Jayadi.

Istri kapten kapal, Santi Sanaya, menceritakan komunikasi terakhirnya yang mencekam sebelum suaminya kehilangan kontak.

Berdasarkan pengakuan suaminya, terdapat 17 awak kapal yang disandera, termasuk empat warga negara Indonesia.

Meski mendapatkan makanan dan izin beribadah, para awak berada di bawah tekanan senjata.

“Suami saya sempat meminta agar tidak dihubungi lagi karena khawatir teleponnya digunakan oleh perompak. Situasinya tidak menentu, kadang mencekam. Suami saya juga sempat ditodong senjata,” ungkap Santi penuh harap agar suaminya segera dibebaskan.

Saat ini, Pemerintah Pusat tengah mengedepankan jalur diplomasi dengan otoritas internasional di kawasan perairan tersebut untuk mengupayakan pembebasan seluruh sandera. (af/ri)

Pilihan Redaksi: Hilangnya Paspor Siti: Modus Baru Sindikat TPPO?

Baca Berita Lainnya di Google News 

Baca Berita VOICEIndonesia di Google News


Editorial VOICEIndonesia




0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x