VOICEINDONESIA.CO, Jakarta — Tekanan geopolitik kembali menyeret nilai tukar rupiah setelah muncul rencana blokade Selat Hormuz oleh Amerika Serikat.
Pada penutupan perdagangan, rupiah melemah tipis ke level Rp17.105 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.104 per dolar AS.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai sentimen utama berasal dari memanasnya hubungan Amerika Serikat dan Iran usai kegagalan perundingan damai.
“Dipengaruhi upaya blokade AS menyusul kegagalan perundingan perdamaian,” ujarnya pada Senin (13/4/2026).
Rencana blokade tersebut disampaikan Presiden Donald Trump yang memerintahkan Angkatan Laut AS mengendalikan lalu lintas maritim di kawasan strategis tersebut.
Kebijakan itu disebut mencakup seluruh kapal yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran, termasuk di Teluk Arab dan Teluk Oman.
Baca Juga : Krisis Selat Hormuz, Indonesia Alihkan Impor Energi dari Australia dan AS
“Pasukan AS akan mulai menerapkan blokade semua lalu lintas maritim,” katanya.
Di sisi lain, Iran melalui Garda Revolusi memperingatkan akan merespons tegas setiap upaya militer yang dianggap melanggar gencatan senjata.
Ketegangan ini dinilai meningkatkan risiko gangguan distribusi energi global sekaligus menekan stabilitas pasar keuangan.
“Proyeksi tersebut masih dalam rentang target inflasi Bank Indonesia sebesar 2,5±1 persen,” ujar Ibrahim.
Sejalan dengan pergerakan rupiah, kurs referensi JISDOR Bank Indonesia juga tercatat melemah ke Rp17.122 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.112 per dolar AS. (Sin/Ah)
Pilihan Redaksi : Ekstradisi Atau Represi: Jangan Manjakan Kriminal Siber
Baca Berita Lainnya di Google News


