VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih akan dilengkapi dengan alat pengering gabah dan pengatur suhu untuk menjaga kualitas hasil pertanian dan perikanan. Fasilitas ini disiapkan agar Kopdes dapat berfungsi optimal sebagai offtaker yang menyerap produk petani sesuai standar kualitas yang ditetapkan.
Menteri Koperasi (Menkop), Ferry Juliantono menjelaskan di desa yang hasil produknya gabah kering panen, Kopdes Merah Putih akan menyerap hasil panen dengan menggunakan tambahan alat berupa pengering atau dryer. Hal ini untuk memastikan kualitas gabah kering panen petani memenuhi kualitas yang sudah ditetapkan Bulog.
“Kedua, misalkan hortikultura buah-buahan sayuran, banyak buah-buahan sayuran yang bagus-bagus dihasilkan oleh masyarakat kita,” kata Menkop saat acara Economic Briefing 2026 di Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Ferry menambahkan banyak produk hortikultura berkualitas yang dihasilkan masyarakat cepat busuk karena tidak ada alat pengatur suhu. Koperasi desa akan dilengkapi dengan alat pengatur suhu untuk menjaga kualitas produk hortikultura agar tidak cepat rusak.
“Tapi karena tidak ada alat pengatur suhunya buah-buahan yang bagus, sayuran yang bagus itu cepat busuk,” ujarnya.
Di sektor perikanan juga akan tersedia cold storage untuk memastikan hasil tangkapan tetap segar sebelum dipasarkan. Fasilitas ini bertujuan agar kualitas hasil produk hortikultura dan perikanan terkelola dengan baik dari hulu hingga hilir.
Baca Juga : Narasi Kopdes Merah Putih Jadi Sorotan Di Tengah Antusiasme Publik
Pemerintah berharap dengan adanya alat pengatur suhu dan cold storage, cadangan pangan dari berbagai sektor pertanian sampai perikanan dapat dikelola secara optimal. Hal ini mendukung upaya pemerintah mewujudkan kedaulatan pangan nasional.
“Oleh karena itu nanti koperasi desa juga akan dilengkapi dengan alat pengatur suhu,” kata Ferry.
Menteri Koperasi menegaskan fungsi Kopdes Merah Putih sebagai offtaker mendukung kedaulatan pangan nasional. Ia menyebut Presiden tidak hanya menginginkan ketahanan pangan yang bisa dipenuhi dengan impor, tetapi kedaulatan pangan dimana produk dihasilkan oleh bangsa Indonesia sendiri.
Ferry menjelaskan ketahanan pangan atau food security membolehkan barang impor untuk memenuhi kebutuhan. Namun Presiden menginginkan food sovereignty atau kedaulatan pangan, dimana barang-barang dihasilkan oleh bangsa Indonesia sendiri yang bisa diproduksi di dalam negeri.
“Fungsi offtaker tadi yang menurut saya menjadi penting ketika kita bicara tentang swasembada,” ungkap Ferry.
Dengan pengelolaan yang baik, pemerintah optimis Indonesia tidak hanya memiliki stok pangan yang cukup untuk kebutuhan dalam negeri. Bahkan jika berlebih, hasil produksi dapat diekspor ke negara lain untuk menambah devisa negara dan memperkuat posisi Indonesia di pasar global.
“Kemudian kita punya stok yang baik dan bahkan jika berlebih bukan hanya di dalam negeri tapi juga untuk kepentingan ekspor,” pungkas Menkop.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan Kopdes Merah Putih merupakan bagian dari infrastruktur pemerintah yang dirancang untuk memperkuat akses ekonomi masyarakat desa. Keberadaan koperasi desa akan memudahkan warga dalam mengakses pusat logistik, layanan keuangan, serta pasar ekonomi.
Zulhas menjelaskan apabila harga gabah atau jagung jatuh di bawah harga pemerintah, petani dapat menjual hasil panen ke koperasi desa. Selanjutnya, koperasi akan menyalurkan komoditas tersebut ke Bulog untuk menjaga stabilitas harga dan melindungi pendapatan petani dari fluktuasi pasar. (Sin/Ah)
Pilihan Redaksi : Pahlawan Devisa Terancam Pancung, Presiden Jangan Hanya Menonton!
Baca Berita Lainnya di Google News


