VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Kementerian Luar Negeri mendesak otoritas Uni Emirat Arab melakukan investigasi transparan terhadap ledakan kapal tugboat Musaffah 2 yang menyebabkan tiga anak buah kapal Indonesia hilang di Selat Hormuz. Kemlu memastikan proses penyelidikan melibatkan pihak Indonesia untuk mengungkap penyebab pasti insiden yang terjadi beberapa hari lalu.
Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia Kementerian Luar Negeri Judha Nugraha menyatakan pihaknya terus berkoordinasi intensif dengan KBRI Abu Dhabi dan otoritas UEA untuk proses pencarian ketiga ABK yang masih hilang. Tim SAR UEA dan Oman melakukan pencarian di sekitar lokasi kejadian, namun terkendala kondisi cuaca dan situasi keamanan di Selat Hormuz.
Kapal tugboat berbendera UEA tersebut meledak dan tenggelam saat melakukan operasi rutin menarik tongkang pengangkut minyak dari Fujairah menuju Doha, Qatar. Ledakan diduga berasal dari ruang mesin yang menyebabkan kebakaran hebat dan kapal tenggelam dalam waktu singkat.
“Penyebab ledakan masih dalam penyelidikan otoritas UEA. Kami memastikan proses investigasi berjalan transparan dan melibatkan pihak Indonesia,” kata Judha dalam keterangan yang dipantau di Jakarta, Senin (9/3/2026).
Dari empat ABK Indonesia di kapal Musaffah 2, satu orang berhasil diselamatkan dengan luka bakar di beberapa bagian tubuh. Budi Santoso yang selamat kini dirawat di Rashid Hospital Dubai dengan kondisi stabil, sementara tiga ABK lainnya yaitu Mulyadi (kapten), Andri Saputra (chief engineer), dan Rahman Hidayat (ABK) masih dalam pencarian.
Kementerian Luar Negeri meminta perusahaan pemilik kapal untuk bertanggung jawab penuh terhadap keselamatan ABK dan memberikan kompensasi sesuai ketentuan. Kemlu juga mendesak percepatan proses pencarian dengan melibatkan lebih banyak kapal dan personel SAR.
Baca Juga : Pemerintah Terus Monitor Nasib 3 ABK yang Hilang di Selat Hormuz
“Kami terus berkoordinasi intensif dengan KBRI Abu Dhabi dan otoritas UEA untuk proses pencarian ketiga ABK yang masih hilang,” ujarnya.
Kemlu telah menghubungi keluarga keempat ABK untuk memberikan informasi terkini mengenai kondisi dan upaya pencarian. KBRI Abu Dhabi terus memantau perkembangan kondisi kesehatan Budi Santoso serta memberikan pendampingan konsular kepada keluarga korban.
Insiden terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz akibat konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Jalur pelayaran strategis yang menjadi rute utama ekspor minyak dunia ini kini menjadi zona konflik yang meningkatkan risiko keselamatan pelayaran.
“Kami akan terus memantau dan mendampingi keluarga korban serta memastikan hak-hak mereka terpenuhi,” tegasnya.
Kemlu mengimbau seluruh ABK Indonesia yang bekerja di kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz untuk meningkatkan kewaspadaan. Perusahaan pelayaran juga diminta mempertimbangkan rute alternatif mengingat eskalasi konflik di kawasan tersebut. (Sin/Ri)
Pilihan Redaksi : Ekstradisi Atau Represi: Jangan Manjakan Kriminal Siber
Baca Berita Lainnya di Google News


