VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Menteri Ketenagakerjaan (Kemnaker) Yassierli memperingatkan anak muda yang enggan menambah keterampilan baru berisiko kehilangan peluang kerja dan tersisih dari persaingan yang makin ketat. Perubahan teknologi dan ekonomi global membuat kebutuhan industri ikut bergeser drastis.
Sejumlah sektor baru terus tumbuh, mulai dari ekonomi digital dan kreatif, pemanfaatan kecerdasan buatan, care economy, hingga ekonomi berkelanjutan. Dampaknya, tenaga kerja dituntut lebih adaptif, terutama generasi muda yang sedang bersiap masuk atau baru memulai karier.
Yassierli menilai cara pandang “cukup satu keahlian” sudah tidak relevan lagi di era ini. Sekitar 59 persen pekerja di dunia diperkirakan perlu mempelajari keterampilan baru agar tetap sesuai dengan kebutuhan industri saat ini.
“Untuk menang dalam persaingan lokal dan global, kita tidak cukup mengandalkan satu kompetensi,” katanya dalam keterangan di Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Perubahan kebutuhan tersebut juga tercermin pada model kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja. Jika dulu seseorang cukup menjadi pakar di satu bidang, kini dibutuhkan kemampuan yang berlapis dan saling terhubung seperti model T-Shaped, Pi-Shaped, hingga M-Shaped atau multi-spesialisasi yang terintegrasi.
Baca Juga : Uang Pemerasan Sertifikat K3 Disebut Mengalir ke Eks Menaker
Menaker menegaskan, Kementerian Ketenagakerjaan memperkuat peran Balai Latihan Kerja sebagai pusat pelatihan vokasi yang adaptif. BLK tidak lagi hanya mengajarkan keterampilan konvensional, tetapi juga diarahkan untuk mengembangkan talenta yang relevan dengan kebutuhan masa kini.
Yassierli mengingatkan, sekitar 50 persen pekerjaan di industri diprediksi akan berubah dalam 10 tahun ke depan. Kemampuan untuk terus belajar ulang menjadi keharusan bagi pekerja, termasuk generasi muda yang baru memasuki dunia kerja.
“Tantangan kita saat ini adalah pekerja yang tidak mau belajar hal baru. Padahal, growth mindset adalah kunci manusia beradaptasi,” tegasnya.
Menaker juga mendorong kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan para pemangku kepentingan untuk memperkuat ekosistem ketenagakerjaan dan pengembangan talenta di daerah. Peluang kini terbuka lebih luas bagi daerah untuk mengembangkan sumber daya manusianya. (Sin/Ri)
Pilihan Redaksi : Menakar Urgensi Transformasi Total KemenP2MI demi Perlindungan Paripurna
Baca Berita Lainnya di Google News


