VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) resmi memperkuat peran perguruan tinggi sebagai garda terdepan dalam mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang siap bersaing di pasar kerja global.
Langkah ini diambil guna menggeser tren pekerja migran Indonesia (PMI) agar tidak lagi didominasi sektor rendah keterampilan.
Wakil Menteri Diktisaintek, Fauzan, menegaskan bahwa kampus kini memiliki posisi strategis sebagai ruang transisi menuju dunia kerja internasional.
Baca Juga: Kerja Sama RI-Australia Diperluas, Dari Penyelundupan Manusia hingga Imigrasi
Melalui kurikulum yang adaptif dan kolaborasi dengan lembaga pelatihan, mahasiswa diharapkan memiliki nilai tambah sebelum lulus.
“Perguruan tinggi berperan menyiapkan lulusan yang tidak hanya siap lulus, tetapi juga siap bekerja secara global,” ujar Fauzan di Jakarta, Kamis (29/1/2026).
Sinergi ini diperkuat melalui pertemuan dengan Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Dzulfikar Ahmad Tawalla.
Baca Juga: KPK Hapus Batas Nilai Gratifikasi, Begini Aturan Barunya
Dzulfikar menyoroti tantangan besar berupa ketidaksesuaian (mismatch) antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri di luar negeri.
Fasilitas pelatihan di dalam kampus pun diusulkan menjadi solusi untuk menekan risiko penempatan yang tidak tepat sasaran.
Data BP2MI mencatat hampir 800 ribu PMI ditempatkan di luar negeri sepanjang 2022–2024, namun mayoritas masih mengisi posisi asisten rumah tangga, pekerja perkebunan, dan operator produksi.
Fauzan mencontohkan Jawa Timur sebagai praktik baik, di mana investasi subsidi pelatihan sebesar Rp10 miliar per tahun berhasil menjadikan provinsi tersebut sebagai penyumbang penempatan kerja tertinggi.
Pertemuan kedua wakil menteri ini merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada Desember 2025.
Kemendiktisaintek berkomitmen membangun ekosistem terintegrasi melalui penguatan career development center, integrasi pelatihan dalam kurikulum, serta skema magang luar negeri yang diakui sebagai bagian dari kredit pendidikan.
Menteri Diktisaintek, Brian Yuliarto, menambahkan bahwa langkah ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. Tenaga kerja terampil Indonesia diharapkan menjadi representasi kualitas bangsa di level internasional. (af/hi)
Pilihan Redaksi: Ekstradisi Atau Represi: Jangan Manjakan Kriminal Siber
Baca Berita Lainnya di Google News


